Surah As-Syams yang terletak pada urutan ke-91 dalam Al-Qur'an merupakan salah satu surah Makkiyah yang memiliki keunikan gaya bahas...
Surah As-Syams
yang terletak pada urutan ke-91 dalam Al-Qur'an merupakan salah satu surah
Makkiyah yang memiliki keunikan gaya bahasa yang luar biasa. Surah ini diawali
dengan deretan sumpah kosmik terbanyak dalam Al-Qur'an, yang mencakup matahari,
bulan, siang, malam, langit, bumi, hingga penciptaan jiwa manusia itu sendiri.
Dalam tradisi kajian tafsir klasik, para mufassir agung seperti Imam Ibnu
Katsir, Al-Qurthubi, dan At-Thabari membedah ayat-ayat ini bukan sekadar
sebagai fenomena alam semesta, melainkan sebagai metafora agung mengenai
dualitas potensi moral manusia dan pentingnya proses penyucian diri (tazkiyatun
nafs).
Berdasarkan tinjauan riset akademik terhadap literatur tafsir klasik, sumpah-sumpah yang berturut-turut di awal Surah As-Syams berfungsi untuk menegaskan sebuah kebenaran mutlak yang menjadi inti surah, yaitu kesuksesan atau kebinasaan manusia bergantung pada bagaimana ia mengelola jiwanya. Jiwa manusia (an-nafs) diciptakan oleh Allah SWT dengan kelengkapan potensi ganda, yakni potensi untuk taat kepada kebaikan dan potensi untuk terjerumus ke dalam kefasikan. Hal ini merujuk pada penafsiran ayat tentang pengilhaman jiwa terhadap kefasikan dan ketakwaannya.
Kajian dalam literatur tafsir klasik menekankan bahwa Allah SWT telah menanamkan nurani atau insting moral yang kuat di dalam diri setiap manusia untuk bisa membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat. Manusia diberikan kehendak bebas (free will) untuk memilih arah hidupnya. Oleh karena itu, mufassir klasik sepakat bahwa penekanan utama dari rangkaian ayat ini adalah pentingnya usaha aktif manusia untuk membersihkan diri dari kotoran dosa, kesombongan, dan sifat tercela.
Bagian penutup Surah As-Syams menghadirkan kisah historis umat terdahulu, yakni penolakan kaum Tsamud terhadap Nabi Shaleh AS dan pembunuhan unta betina mukjizat Allah. Dalam pandangan tafsir klasik, kisah ini dihadirkan sebagai studi kasus nyata mengenai akibat fatal dari pengabaian terhadap pensucian jiwa. Ketika kaum Tsamud yang dipimpin oleh tokoh pembangkang mereka mendustakan kebenaran dan menolak peringatan, mereka mengotori jiwa mereka sendiri dengan keangkuhan, sehingga Allah menimpakan azab yang merata tanpa pandang bulu kepada mereka.
Kajian akademik menggarisbawahi bahwa keberuntungan sejati di dunia dan akhirat hanya akan diraih oleh orang-orang yang senantiasa menyucikan jiwanya dengan keimanan dan amal saleh. Sebaliknya, siapa saja yang membiarkan jiwanya tenggelam dalam lumpur kemaksiatan dan ketiadaan moral, ia dipastikan akan merugi dan binasa. Pensucian jiwa ini mencakup penyelarasan antara keyakinan akidah yang lurus dengan manifestasi amal perbuatan nyata yang berorientasi pada kemaslahatan sesama manusia dan ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta.
Kajian tafsir klasik terhadap QS. As-Syams memberikan pencerahan mendalam bahwa eksistensi manusia di muka bumi terikat erat dengan tanggung jawab moral untuk menjaga kesucian nurani. Melalui sumpah-sumpah agung fenomena alam semesta dan pelajaran sejarah kaum Tsamud, Al-Qur'an menegaskan bahwa kemenangan hidup hanya milik mereka yang merawat ketaatan dan membersihkan diri dari keburukan, sementara kelalaian terhadap pensucian jiwa akan mengantarkan pada kehancuran hakiki.
Daftar Pustaka / Referensi
Rahman, F.
(2023). Konsep Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir Klasik: Studi Analitis QS.
As-Syams Ayat 1-10. Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 5(1),
45-62.
Tim Kajian Al-Mizan. (2022). Refleksi Moralitas Manusia Melalui Sumpah-Sumpah Kosmik dalam Surah As-Syams. Al-Mizan: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an, 4(2), 110-125.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir: Pembahasan Surah As-Syams).
