Surah Al-Lail (Malam) yang menempati urutan ke-92 dalam Al-Qur'an merupakan surah Makkiyah yang sarat dengan nilai-nilai etika sosial, k...
Berdasarkan tinjauan tafsir klasik yang diintegrasikan dalam riset-riset kontemporer, QS. Al-Lail secara tegas membagi manusia ke dalam dua golongan utama yang tercermin dari manifestasi perbuatan mereka sehari-hari. Golongan pertama adalah kelompok orang yang dermawan dan bertakwa. Dalam pemaparan tafsir Ibnu Katsir sebagaimana dikaji oleh Hasnan (2024), kelompok ini dicirikan dengan sikap suka mendermakan harta di jalan Allah, membenarkan adanya balasan terbaik atau surga, serta membersihkan jiwa dari sifat egoisme. Balasan bagi mereka adalah kemudahan dari Allah SWT untuk menempuh jalan kebaikan (al-yusra), di mana setiap amal saleh terasa ringan untuk dikerjakan dan pintu-pintu petunjuk dibukakan seluas-luasnya.
Sebaliknya, golongan kedua adalah mereka yang memilih jalan kesukaran (al-usra) akibat sifat bakhil atau kikir dan merasa dirinya serba cukup tanpa membutuhkan pertolongan serta rahmat Allah. Kajian yang dimuat dalam Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat menegaskan bahwa sifat kikir tidak hanya terbatas pada penahanan harta materi, tetapi juga meliputi keengganan untuk berbagi kepedulian dan kebaikan sosial. Orang yang memilih jalan ini mendustakan kebaikan dan berpaling dari petunjuk, sehingga Allah akan memudahkannya terperosok ke dalam jalan kesesatan. Ayat-ayat selanjutnya menegaskan pula bahwa timbunan harta melimpah yang dibanggakan tidak akan mampu menyelamatkan seseorang ketika ia telah menghadapi kematian dan kebinasaan di akhirat kelak.
Implikasi Teologis dan Sosial
Kajian akademis
terhadap Surah Al-Lail memberikan implikasi yang sangat dalam bagi pembentukan
karakter moral individu maupun tatanan masyarakat. Dari sudut pandang teologis,
surah ini menegaskan prinsip keadilan Ilahi di mana manusia diberi kebebasan memilih
arah hidupnya, namun konsekuensi dari pilihan tersebut—baik kemudahan menuju
surga maupun kesukaran akibat kemaksiatan—sepenuhnya berada di bawah hukum
timbal balik perbuatan (sunnatullah).
Kesimpulan
Tafsir QS.
Al-Lail menggambarkan peta jalan kehidupan manusia secara komprehensif melalui
perbandingan dua orientasi amal: kelompok yang dermawan dan bertakwa yang
berbuah kemudahan hidup, serta kelompok yang kikir dan mendustakan kebenaran
yang berujung pada kesusahan. Melalui pendekatan kajian tematik, surah ini
tetap sangat relevan dijadikan pedoman dakwah dan refleksi spiritual guna
membangun masyarakat yang dermawan, berempati tinggi, serta senantiasa berjalan
di atas koridor petunjuk Allah SWT.
Daftar Pustaka / Referensi
Hasnan, M.
(2024). Dua Golongan Manusia Dalam Q.S. al-Lail/92: 5-11 (Studi Tematik
Tafsir Ibnu Katsir). Skripsi/Kajian Ilmiah, Program Studi Ilmu Al-Qur'an
dan Tafsir, UIN Antasari Banjarmasin.
Tim Riset
JURRAFI. (2023). Menggapai Ridho Allah Swt Dengan Menghindari Kikir (Isi
Kandungan QS. Al-Lail [92]: 8-11). Jurnal Riset Rumpun Agama dan
Filsafat (JURRAFI), 2(2), 30-38.
Ibnu Katsir,
Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir:
Pembahasan Surah Al-Lail).
