Di tengah dinamika perkembangan Islam di wilayah Depok, khususnya Beji, terdapat sosok ulama kampung yang jejak pengabdiannya masih terasa h...
Di tengah dinamika perkembangan Islam di wilayah Depok, khususnya Beji, terdapat sosok ulama kampung yang jejak pengabdiannya masih terasa hingga hari ini. Ia dikenal sederhana, dekat dengan masyarakat, namun memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk generasi santri. Dialah KH Anwar, atau yang akrab disebut Guru Anwar bin Kyai Asy’ari.
Lahir pada tahun 1904, KH Anwar tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang masih kental dengan tradisi keagamaan berbasis kampung. Masa hidupnya melintasi periode penting dalam sejarah Indonesia, dari masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan. Dalam situasi tersebut, ia mengambil peran sebagai penjaga sekaligus penggerak kehidupan keislaman masyarakat.
Sebagai ulama Kampung Gedong, KH Anwar tidak hanya dikenal karena ilmunya, tetapi juga karena kedekatannya dengan umat. Rumah dan tempat mengajarnya menjadi ruang tumbuhnya generasi yang haus akan ilmu agama. Di sanalah pendidikan diniyah berkembang, menjadi fondasi utama bagi anak-anak dan pemuda dalam memahami ajaran Islam.
Peran KH Anwar dalam menggerakkan pendidikan diniyah di kawasan Beji sangatlah besar. Ia tidak sekadar mengajar, tetapi membina. Tidak sekadar menyampaikan ilmu, tetapi menanamkan adab. Dari tangannya lahir kader-kader yang kemudian melanjutkan estafet dakwah di tengah masyarakat. Dengan cara yang sederhana namun istiqamah, ia ikut membentuk wajah keislaman Beji yang kita kenal hari ini.
Salah satu kekuatan utama KH Anwar terletak pada nilai-nilai yang ia tanamkan kepada murid-muridnya. Bagi beliau, hubungan antara guru dan murid bukanlah hubungan transaksional, melainkan hubungan ruhani yang dilandasi keikhlasan dan keberkahan. Hal ini tercermin dalam nasihatnya yang masih diingat hingga kini.
Sebagaimana disampaikan oleh cucunya, KH M. Lutfi, dalam sebuah wawancara, KH Anwar pernah berpesan:
“Jangan mencari uang dari guru, tetapi carilah berkahnya.”
“Jangan meminjam uang kepada murid.”
Dua nasihat ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus dijaga kemuliaannya, dan hubungan guru-murid harus dibangun di atas adab, bukan kepentingan duniawi. Di situlah letak keistimewaan seorang guru sejati.
Warisan KH Anwar tidak berhenti pada masa hidupnya. Jejak perjuangannya terus berlanjut melalui keluarga dan lembaga yang ia tinggalkan. Salah satu putranya, KH Bahrudin Anwar, hingga kini mengelola tanah wakaf Masjid Al-Huda serta Yayasan Pendidikan Islam Unwanul Khoiriyah (YASPIKH). Melalui lembaga ini, semangat pendidikan dan dakwah yang dahulu dirintis oleh KH Anwar tetap hidup dan berkembang.
Kisah KH Anwar adalah cermin dari peran besar ulama kampung dalam sejarah Islam lokal. Tanpa sorotan besar, tanpa catatan sejarah yang luas, mereka bekerja dalam diam—mengajar, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi masyarakat.
Di Kampung Gedong dan sekitarnya, nama KH Anwar mungkin tidak selalu disebut dalam buku sejarah besar. Namun dalam ingatan masyarakat, dalam tradisi pengajian, dan dalam keberlanjutan pendidikan Islam, beliau tetap hidup sebagai guru yang menanamkan ilmu sekaligus keberkahan.
Sumber: KH Rafeudin, KH M Lutfi HB
