Oleh: Darul Qutni, S.S.I, M.Pd (Peneliti Al-Ibthon Institute) 1.1 Pendahuluan l Konteks Pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi Umum ...
Oleh: Darul Qutni, S.S.I, M.Pd
(Peneliti Al-Ibthon Institute)
1.1 Pendahuluan
l Konteks Pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi Umum
Konteks Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi umum tidak bisa lepas dari Tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Prinsip ini merupakan prinsip yang harus dipegang oleh seluruh warga perguruan tinggi (civitas akademika).
Tridharma Perguruan Tinggi merupakan tindakan inti dari seluruh civitas akademika dalam membangun budaya akademik yang bermanfaat bagi masyarakat. Romo YB Mangunwijaya pernah mengkritik pedas para akademisi dengan mengatakan kecerdasan intelektual akademisi percuma jika tidak dibarengi dengan pengabdian masyarakat (kerja-kerja sosial).
Albert Einstein merupakan ilmuwan yang berpengaruh dalam konteks sejarah penemuan bom atom dan senjata nuklir. Meski demikian, ia menyesali suratnya kepada Presiden Amerika Serikat Frankin D Roosevelt pada 1939 mengenai potensi senjata atom yang dimiliki oleh Nazi Jerman. Surat ini memicu penggunaaan bom nuklir Amerika Serikat kepada Hiroshima dan Nagasaki. Pasca peristiwa ini, ia mengampanyekan kontrol internasional senjata atom dan mendorong perdamaian. Saat ini, dunia pun sedang menyaksikan konflik global Amerika Serikat dan Israel dengan Iran terkait isu nuklir yang berdampak luas kepada kawasan dan stabilitas dunia.
l Relevansi dan Urgensi Pengembangan Tujuan Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi Umum
Dari prinsip Tridharma Perguruan Tinggi dan pernyataan dua tokoh di atas, maka urgensi pengembangan tujuan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi menemukan relevansinya. Bagaimana tujuan Pendidikan Islam dapat berkontribusi bagi pengembangan masyarakat dan menciptakan perdamaian abadi di dunia. Seorang ilmuwan, cendekiawan dan intelektual muslim dituntut untuk menunjukkan kepedulian sosialnya dan kontribusinya bagi harmoni dan keadilan dunia. Intelektual muslim semacam itu, menurut Antonio Gramsci, adalah intelektual organik.
Gramsci memisahkan antara kaum intelektual organik dan tradisional. Gramsci (2013: 131) menyebut intelektual organik sebagai pengatur politik bagi golongan sosial pokok tertentu. Jenis kaum intelektual organik tersebut meliputi pengusaha, pakar ekonomi, insinyur, birokrat, ahli hukum dan teknisi industri. Kaum terpelajar ini cenderung giat dalam usaha penegakan keadilan. Oleh sebab itu kaum intelektual organik perlu mengerti teori dan sistem sosial supaya sanggup menjadi pemimpin pemikiran yang siap mewakili harapan publik terhadap penolakan pada keputusan pemerintah yang berdampak kepada masyarakat.
1.2 Dasar Filosofis dan Historis Pendidikan Islam
Pendidikan Islam dimulai dari sejak Nabi Adam Alaihissalam dan berakhir dengan penyempurnaan dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Meskipun wahyu sudah selesai, problematika kehidupan terus berkembang. Al Qur’an, Hadis dan Sejarah Nabi Muhammad SAW telah meletakkan prinsip-prinsip dasar Pendidikan Islam yang modern dan kontemporer.
Falsafah Pendidikan Islam dapat dikatakan mengacu kepada teori Plato tentang nilai Kebajikan. Plato mengartikan kebajikan sebagai keadaan ketika akal menguasai individu, bukan hawa nafsu. Dia menyoroti empat sifat utama: akal sehat, kegagahan, menahan diri, dan keadilan, di mana keadilan menjadi sifat paling utama yang menata masyarakat. Etika menurut Plato bersifat nalar dan pengetahuan, dimana kegembiraan sejati diperoleh lewat mengerti gagasan kebaikan. Di sisi lain, Islam melihat kebaikan sebagai keselarasan antara interaksi tegak lurus dengan Allah (hablun minallah) dan interaksi mendatar dengan orang lain (hablun minannas).
Kebaikan dalam Islam meliputi unsur akhlak, kemasyarakatan, dan batin, dengan panduan pokok yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadis, misalnya jujur, adil, serta rasa peduli. Etika Islam menekankan keseimbangan antara pewahyuan dan pemikiran dalam membentuk perilaku pribadi. Walaupun ada perbedaan cara mengetahui, baik pandangan Plato maupun Islam sama-sama menggarisbawahi arti penting akhlak dalam memandu manusia menuju kehidupan yang layak. Kedua sudut pandang tersebut bisa berperan dalam menata etika sosial yang selaras.
Nabi Adam Alaihissalam diterangkan mendapatkan pengajaran dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang berbagai macam nama dan identitas benda serta aktifitas yang ada di dunia seluruhnya. Tak terkecuali, identifikasi terhadap berbagai macam etika kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Artinya:
“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!” (Al-Baqarah [2]:31].
Menurut Ujang Saefuddin Rosyid (2020), Metode pengajaran dalam sejarah Nabi Muhammad SAW meliputi ceramah, diskusi, eksperimen, tanya jawab, demonstrasi, teladan, pembiasaan, mau'izhat dan nasihat, cerita, perumpamaan, pujian dan hukuman, bertahap, perbandingan, kinayat, serta penggunaan gambar. Secara historis, penerapan metode pengajaran dalam sudut pandang Nabi SAW saat menyampaikan materi kepada sahabat atau muridnya tercatat dalam berbagai riwayat Hadits beliau. Hubungan antara metode pembelajaran di pandangan Nabi SAW dengan metode pembelajaran masa kini adalah bahwa kebanyakan metode saat ini berakar pada prinsip yang diajarkan oleh Nabi SAW, dengan sedikit perubahan di era kontemporer. Oleh karena itu, menurut Ujang, dengan keahlian pengajar, pendekatan yang digunakan Nabi SAW di masa lalu tetap sangat relevan untuk konteks pembelajaran sekarang.
1.3 Tujuan Ideal Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum
Tujuan dari pendidikan dalam Islam seharusnya fokus pada pengembangan dan pembentukan individu yang berkualitas. Beliau mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam bukan hanya untuk menciptakan individu yang berkontribusi sebagai warga negara yang baik dan pekerja yang produktif. Melainkan, tujuannya adalah untuk mengembangkan individu sebagai insan paripurna, atau yang sering disebut insan kamil.
Aspek yang perlu ditekankan dalam tujuan pendidikan ini adalah nilai manusia sebagai makhluk yang sejati, yang berperan sebagai warga negara dan memiliki dimensi spiritual, sehingga bukan hanya sekadar pandangan pragmatis terhadap manusia sebagai entitas fisik yang berarti bagi negara dan masyarakat. Walaupun tujuan pendidikan ini tampak lebih menekankan aspek individu, faktanya tidak bisa diabaikan bahwa manusia juga adalah makhluk sosial yang saling terhubung dengan yang lain. Akibatnya, kemunculan individu yang baik tentu akan berimbas pada terbentuknya masyarakat yang baik. Oleh sebab itu, individu dikatakan beradab jika ia menyadari keunikan dirinya dan memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, masyarakat, serta lingkungan.
Selain Sayyid Naquib Al Attas, sejumlah peneliti dan pakar pendidikan Islam turut merumuskan tujuan Ideal Pendidikan Agama Islam. Di antaranya,
1. Mukhtar Zaini Dahlan: Menanamkan rasa taqwa kepada Allah SWT sebagai dasar spiritual, membentuk mahasiswa yang pandai, berpikir jauh, tidak memihak, dan dapat bekerja sama, PAI di PTU diarahkan supaya mahasiswa tidak saja menerima pengetahuan, melainkan juga menerapkannya dalam keseharian, Pendidikan Islam berupaya mewujudkan akhlak atau tingkah laku yang baik, bukan hanya memusatkan pada segi kognitif (pengetahuan), tetapi juga afektif (perilaku) dan psikomotorik (aksi), Islam lebih menonjolkan zikir (kesadaran batin) daripada sekadar fikir (pemikiran logis), maka pengetahuan harus didasari keyakinan dan taqwa.
2. Muhammad Burhan Nasrullah: Inti dari ajaran pendidikan Islam itu adalah memajukan ilmu, akhlak, dan juga pengembangan diri sendiri. Sasaran utamanya adalah menciptakan orang dan juga komunitas yang punya sifat Islami, punya etika baik, dan bisa memberi sumbangsih positif pada kehidupan bermasyarakat.
Dari tiga sudut pandang di atas tentang tujuan ideal pendidikan agama Islam, maka hal ini sejalan dengan empat pokok tujuan Pendidikan Agama Islam yang dirangkum oleh tokoh pendidikan Islam kontemporer, Sayyid Umar bin Hafidz sebagai berikut:
1. Menanamkan keagungan agama dalam hati mahasiswa (pelajar(
2. Mentransfer pengetahuan agama dan membuat para mahasiswa memahami ajaran agama Islam.
3. Mewarnai hati mahasiswa dengan akhlak yang mulia (karakter yang baik)
4. Mengikat hati para mahasiswa untuk berdakwah dan memikul tanggung jawab dakwah.
Dari paparan di atas, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa tujuan ideal Pendidikan Islam di PTU menurut para pakar adalah membentuk insan kamil: mahasiswa yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai Islam. Dengan demikian, PAI di PTU bukan sekadar mata kuliah formal, tetapi pembinaan karakter dan moral generasi muda agar siap menghadapi tantangan zaman dengan landasan spiritual yang kuat.
1.4 Tujuan Operasional Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum
Adapun Tujuan Operasional PAI di PTU menurut Para Pakar dan peneliti adalah:
1. Marzuki: Mencapai perilaku baik sebagai hasil belajar. Ini tidak hanya fokus pada pengetahuan (ilmu), tapi juga perasaan (sikap) dan perbuatan (tindakan). Islam sangat mementingkan zikir (kesadaran rohani). Tujuannya agar ilmu yang didapat bukan hanya teori saja, melainkan benar benar dipraktikkan dalam hidup sehari hari.
2. Rifqi Amin: Menyoroti keahlian khusus, Tauhid (satu Tuhan) sebagai dasar keyakinan, Watak Islami yang terlihat dalam tingkah laku, Menyelesaikan masalah dengan cara pandang Islami, PAI di PTU dibuat supaya mahasiswa bisa menghadapi masalah zaman kini dengan jalan keluar berlandaskan nilai Islam.
Tujuan operasional PAI di PTU menurut para ahli di atas adalah menghasilkan mahasiswa yang punya iman, akhlak bagus, memiliki ciri khas Islami, dan bisa menggabungkan ilmu dengan keyakinan agama di kehidupan sehari hari. Jadi, PAI itu bukan cuma mata kuliah biasa yang harus diambil, tapi sarana untuk membangun moral dan rohani anak muda supaya siap menghadapi masalah zaman menggunakan ajaran Islam sebagai jalan keluar.
Untuk mencapai tujuan operasional ini, Sayyid Umar Bin Hafidz, tokoh Pendidikan Islam internasional dan kontemporer asal Hadramaut, Yaman, merinci dengan sangat detail bagaimana mewujudkannya. Misalnya, untuk menanamkan keagungan agama Islam, seorang pelajar/mahasiswa harus membiasakan menyebut dan mengagungkan nama Allah subhanahu wa ta’ala dan menyebut Nabi Muhammad berikut doa dan gelarnya. Misalya, untuk Allah, subhanahu wa ta’ala, azza wa jalla, jalla jalaaluh, dll. Untuk Nabi Muhammad, disertai kata Nabi, Baginda, Sayyidina, Rasulullah SAW dst. Hal ini untuk mewujudkan keyakinan mahasiswa terhadap keagungan agamanya.
Tidak heran, jika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegur gaya bahasa Jaringan Islam Liberal (JIL) yang menurutnya kurang beretika pada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Gus Dur memang sempat menegur Jaringan Islam Liberal (JIL) sebab dianggap tidak hormat saat menyebut Nabi Muhammad SAW hanya dengan nama “Muhammad” tanpa sebutan hormat. Teguran ini muncul saat Gus Dur menilai gaya bahasa JIL terlalu bebas serta kurang memperhatikan tata krama agama. Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh yang terbuka pada pandangan liberal, tetap menekankan pentingnya etika dalam berkeyakinan. Beliau menilai JIL kurang menghargai Nabi Muhammad SAW karena memanggilnya hanya dengan nama “Muhammad” tanpa sebutan seperti Rasulullah atau Nabi Muhammad SAW. Gus Dur ingin mengingatkan bahwa kebebasan berpikir harus tetap disertai dengan rasa hormat terhadap hal hal suci dalam Islam.
1.5 PAI dan Pembentukan Karakter Kepribadian Mahasiswa di PTU
Ahli pendidikan agama Islam mengatakan jika mata kuliah PAI di Perguruan Tinggi Umum (PTU) itu penting sekali buat membentuk watak dan moral mahasiswa. Ini bukan hanya soal memindahkan / mentransfer ilmu agama. Tapi lebih ke menanamkan nilai Islam seperti jujur, disiplin, punya tanggung jawab, dan bisa saling menghargai. Jadi, PAI itu dasar untuk membangun akhlak dan etika mahasiswa. Ini membantu mereka siap menghadapi tantangan zaman sekarang dengan bekal rohani. Meminjam bahasa Sayyid Umar Hafidz, pendidikan Islam tidak hanya “Ishol al Ma’lumat” (Menyampaikan/mentransfer pengetahuan) tapi, juga “Tafqih Fid Din” (memberikan kepahaman dalam agama secara mendalam).
Pelajaran Agama Islam di perguruan tinggi umum, menurut para pakar, peranannya amat penting. Tujuannya membentuk watak mahasiswa yang punya nilai moral tinggi (Ghozali & dkk, 2023). Saat mulai dewasa, mahasiswa perlu mengerti agama sebagai bekal ambil keputusan yang baik. Melalui Pendidikan Agama Islam, nilai seperti tanggung jawab, jujur, dan peduli itu diajarkan dengan baik. Maka mahasiswa bisa punya dasar pikiran dan jiwa yang kuat (Dahlan, 2022).
Selain itu, pentingnya Pendidikan Agama Islam juga nampak dari caranya membentuk watak beragama yang santun. Kampus adalah tempat banyak ide yang bertemu dan membutuhkan ajaran agama yang bisa mendorong toleransi dan kedamaian. Dengan ajaran Islam yang merangkul semua orang, mahasiswa diharapkan bisa jaga keharmonisan sosial. Mereka juga mesti menghindari pemahaman radikal yang bisa bikin kacau suasana kampus (Rahman, 2025).
Di bawah ini, penulis sampaikan pula pendapat pakar pendidikan lainnya;
1. Musbaing:
· Mengatakan Pendidikan Agama Islam itu penting sekali untuk membentuk watak Islami.
· Watak Islami itu menunjukkan tingkah laku baik seperti jujur, tertib, mau bertanggung jawab, dan suka menghargai orang lain.
· Cara mengajar PAI yang berhasil harus menggabungkan pengetahuan (ilmu), perasaan (sikap), dan juga perbuatan (tindakan).
2. Muhammad Nurul Mubin
· Menekankan kalau Pendidikan Agama Islam di PTU itu adalah jiwa pembentukan karakter mahasiswa.
· PAI jadi dasar rohani untuk kemajuan ilmu, agar mahasiswa tidak terperangkap pada pemisahan agama dari ilmu pengetahuan.
Para ahli setuju bahwa Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum menjadi alat untuk membentuk watak dan akhlak mahasiswa. Maksud pokoknya yaitu melahirkan sarjana yang tidak saja hebat ilmunya, namun juga memiliki budi pekerti luhur, beriman, dan mampu menyatukan pengetahuan dengan ajaran Islam.
1.6 Penutup
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) berlandaskan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Prinsip ini menuntut civitas akademika untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat. Romo Mangun menekankan pentingnya kerja sosial, sementara Einstein mengingatkan bahaya ilmu tanpa moral melalui refleksinya atas bom atom. Hal ini menegaskan urgensi PAI dalam membangun perdamaian dan keadilan.
Secara filosofis, PAI berakar pada wahyu Al-Qur’an dan Hadis, serta sejarah Nabi Muhammad SAW. Nilai etika Islam sejalan dengan gagasan Plato tentang kebajikan, menekankan akhlak, keadilan, dan keseimbangan hubungan dengan Allah (hablun minallah) serta sesama manusia (hablun minannas). Metode pengajaran Nabi SAW seperti ceramah, diskusi, teladan, dan pembiasaan tetap relevan hingga kini.
Tujuan ideal PAI adalah membentuk insan kamil—individu berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan mampu mengintegrasikan ilmu dengan nilai Islam. Pandangan ini ditegaskan oleh tokoh seperti Seyyed Naquib Al-Attas, Mukhtar Zaini Dahlan, dan Muhammad Burhan Nasrullah. Sayyid Umar bin Hafidz merumuskan empat pokok tujuan: menanamkan keagungan agama, mentransfer pengetahuan, membentuk akhlak mulia, dan menumbuhkan semangat dakwah.
Tujuan operasional PAI lebih konkret, yakni menghasilkan mahasiswa beriman, berakhlak baik, dan mampu mempraktikkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Marzuki menekankan pembentukan perilaku, Rifqi Amin menyoroti keahlian Islami dalam menghadapi masalah kontemporer. Habib Umar bin Hafidz menekankan pentingnya adab dalam menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, Gus Dur pernah menegur Jaringan Islam Liberal (JIL) karena dianggap kurang sopan menyebut Nabi hanya dengan nama “Muhammad” tanpa gelar penghormatan, sebagai pengingat bahwa kebebasan berpikir harus tetap disertai etika.
Secara keseluruhan, PAI di PTU berfungsi membentuk karakter mahasiswa yang berakhlak, berilmu, dan beriman. Pendidikan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembinaan moral dan spiritual agar mahasiswa siap menghadapi tantangan zaman dengan landasan Islam yang kokoh.
Daftar Pustaka
Jurnal
Amalia, N. (2024). Tridharma Perguruan Tinggi Untuk Membangun Akademik Dan Masyarakat Berperadaban. Karimah Tauhid, 3(4), 4654-4663.
Amin, N. (2021). Strategi Mengajar Untuk Mengembangkan Pengetahuan Dan Karakter Peserta Didik Menurut Habib Umar Bin Hafidz Dalam Kitab Maqashid Halaqat At-Ta'Lim (Doctoral dissertation, Institut Agama Islam Tribakti).
Amin, R. (2024). Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum: Studi Kasus Di Universitas Nusantara Pgri Kediri. Didaktika Religia, 1(2), 121–135.
Hilman, M., Rohendi, S. S., Royani, I. U., Khoirah, A. M., & Parhan, M. (2025). Keselarasan Konsep Kebaikan Dan Etika Antara Pemikiran Plato Dan Islam. AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin, 2(6), 319-331.
Islam, M. S. (2024). Pemikiran Pendidikan Islam Seyyed Naquib Al-Attas. AL-FADLAN: Journal of Islamic Education and Teaching, 2(1), 25-36.
Marzuki, M. (2010). Pembentukan kultur akhlak mulia di kalangan mahasiswa UNY melalui pembelajaran PAI. Cakrawala Pendidikan, (1), 79948.
Mukhtar Zaini Dahlan, S. P. I. (2022). Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum: Landasan Dasar, Konsep, Dan Aplikasi. SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan, 1(2), 1-12.
Musbaing. (2023). Peran Pembelajaran Pai Dalam Membangun Karakter Islami (Sebuah Kajian Literatur). Universitas Islam Makassar.
Mubin, M. N. (2021). Problematika dan Solusi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 6(2), 282–296.
Nasrullah, M. B., & Albina, M. (2025). Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(6), 45–56.
Rosyid, U. S. (2020). Metode Pembelajaran dalam Perspektif Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Aksioma Ad Diniyah: The Indonesian Journal Of Islamic Studies, 8(1).
Salleh, K., & Yusuf, K. B. M. (2014). Gus Dur dan Pemikiran Liberalisme. Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies, 1(2), 259-284.
Siswati, E. (2017). Anatomi Teori Hegemoni Antonio Gramsci. Translitera: Jurnal Kajian Komunikasi Dan Studi Media, 5(1), 11-33.
Suwahyu, I. (2025). Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum. Journal of Islamic Religious Education, 1(1), 94-101.
Internet
Romo Mangun: Suara Bagi Yang Terpinggirkan, https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/romo-mangun/, Diakses, 24 Maret 2026
Surat Einstein dan Szilard Awal Mula Perlombaan Nuklir yang Mengubah Dunia, Diakses 25 Maret 2026.
