Oleh: Darul Qutni, S.S.I, M.Pd Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi sistem pendidikan Islam berbasis pesantren melalui pemikiran Abuy...
Oleh: Darul Qutni, S.S.I, M.Pd
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi sistem pendidikan Islam berbasis pesantren melalui pemikiran Abuya KH. Abdurrahman Nawi. Artikel ini membedah empat pilar utama: landasan filosofis, struktur kurikulum berbasis kitab karya mandiri, etika pendidik-peserta didik, serta strategi keberlanjutan institusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan Abuya Nawi mengintegrasikan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dengan konsep long life education dan adaptasi teknologi digital. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan model Pesantren yang tetap relevan dengan tantangan modernitas tanpa kehilangan jati diri tradisionalnya.
Pesantren merupakan pilar
pendidikan karakter di Indonesia. Di tengah arus globalisasi, figur Abuya KH.
Abdurrahman Nawi muncul sebagai tokoh yang mampu mempertahankan ortodoksi
keilmuan melalui karya-karya kitab kuningnya, sembari tetap adaptif terhadap
regulasi pendidikan nasional (SKB 3 Menteri 1975). Abuya KH. Abdurrahman Nawi
bukan sekadar pengajar, tapi penulis produktif. Keberadaan karya tulis mandiri
sebagai buku ajar utama menunjukkan kemandirian kurikulum dan spesialisasi
keilmuan yang menjadi ciri khas pesantrennya. Kontribusinya mencakup pendirian
institusi formal dan non-formal yang menyelaraskan sistem madrasah dengan
tradisi salaf. Artikel ini menganalisis bagaimana visi besar beliau
diimplementasikan dalam struktur pendidikan yang holistik.
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif (Moleong, 2017) melalui studi kepustakaan (library
research). Sumber data primer berasal dari buku Tibyany Fi Manaqibi Abuya KH
Abdurrahman Nawi, Al Masyrabur Rawy Fi Manaqib Abuya KH Abdurrahman Nawi dan
kumpulan kitab (Majmu'ah Kutub) karya Abuya KH. Abdurrahman Nawi. Data
dianalisis menggunakan teknik interpretasi hermeneutik untuk memahami makna di
balik pemikiran pendidikan sang tokoh.
Pendidikan dalam pandangan Abuya
Nawi tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi proses spiritual menuju
ketenangan jiwa dan keberkahan rezeki. Landasan utamanya meliputi:
ü Teologis: Berpegang pada aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
ü Psikologis: Membangun "ketinggian semangat" (himmah)
santri.
ü Yuridis: Keselarasan dengan peraturan pemerintah mengenai
pendidikan keagamaan.
Beliau mendasarkan pendidikan
pada hukum Islam (syara') sekaligus mematuhi dasar pelaksanaan pendidikan di
Indonesia. Ini menunjukkan sikap nasionalis-religius.
Beliau membagi tujuan pendidikan
ke dalam empat tingkatan:
ü Tujuan Umum : Keunggulan
dunia-akhirat.
ü Tujuan Akhir : Menjadikan agama sebagai filter
utama kehidupan.
ü Tujuan Sementara :
Kelulusan formal di setiap jenjang.
ü Tujuan Operasional :
Penyerapan manfaat (faidah) secara praktis dalam setiap
materi.
Pendidikan menurut Abuya Nawi bertujuan
membentuk insan yang tidak hanya mahir secara kognitif, tetapi memiliki
kemantapan ideologis (Aswaja).
Keunikan pesantren ini terletak
pada penggunaan kitab-kitab karya pendiri sebagai sumber utama (bidang Tauhid,
Fiqh, dan Akhlak). Metode yang digunakan mencakup bil lisan (verbal), bil qolam
(literasi), dan bil haal (keteladanan). Dalam kata lain, Pembagian ilmu dan
mata pelajaran mencakup aspek esensial (Tauhid, Fiqh, Akhlak) dengan metode
pembelajaran yang sistematis (ceramah, literasi, dan praktek).
Pendidik dipandang sebagai agen
perubahan yang wajib memiliki sifat waro' dan keteladanan (uswatun hasanah).
Sementara peserta didik ditekankan pada konsep keikhlasan dalam belajar dan
penguasaan ilmu alat (Nahwu/Shorof) sebagai kunci pemahaman agama. Pendidik
memiliki kedudukan dan tugas yang sangat luhur, lebih dari sekadar pengajar
materi, melainkan pembimbing spiritual. Penekanan pada sifat dan etika peserta
didik menunjukkan bahwa dalam sistem ini, adab mendahului ilmu. Keutamaan
belajar dan mengajar dijadikan motivasi intrinsik bagi santri.
Pendidikan berbasis pesantren
Abuya KH. Abdurrahman Nawi adalah model sintesis antara tradisi klasik dan
tuntutan masa depan. Disarankan bagi pengelola yayasan untuk memformalkan
pemikiran ini menjadi kebijakan strategis dan terus mendorong integrasi teknologi
digital guna memperluas syiar keilmuan tanpa mereduksi nilai-nilai akhlakul
karimah. Temuan artikel ini mengarah pada pola pendidikan yang "ajeg"
secara nilai namun "luwes" secara manajerial. Genealogi Intelektual
dan pengaruh tokoh-tokoh besar terhadap pemikiran beliau memperkuat legitimasi
keilmuan yang diajarkan di Al-Awwabin.
Wallahu a’lam bisshawab
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, A. I. A. H. (2004).
Mukhtashar Ihya Ulumuddin al-Musamma Audhlon Al-Mursyidul Amin Ila Mauidzatil
Mu’minin. Darul Kutub al-Islamiyyah.
Asy’arie, H. K. H. (n.d.). Adab
al-Alim wa al-Muta’allim. Maktabah Tebuireng.
Facebook. (2023, July 28).
Mengenal KH. Abdurrahman Nawi Lewat Karyanya Part 1. Pecinta Abuya KH.
Abdurrahman Nawi. facebook.com
Hidayat, M. Y. (2021). Tibyany Fi
Manaqibiy Syaikhiy wa Murobbi Ruhy Abuya KH. Abdurrahman Nawi. Tibyana Press.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi
Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Remaja Rosdakarya.
Nata, A. (2021). Pemikiran Para
Tokoh Pendidikan Islam. Penerbit AMZAH.
NU Online. (2023, June 14). KH
Abdurrahman Nawi, Pejuang Aswaja dari Betawi. nu.or.id
Pondok Pesantren Putri
Al-Awwabin. (2018). Majmu'ah Kutub Abuya KH. Abdurrahman Nawi.
Sugiyono. (2007). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Wibowo, B. A., et al. (2023).
Sejarah Pendidikan. UPY Press.
Internet
Facebook. (2023, 28 Juli).
Mengenal KH. Abdurrahman Nawi Lewat Karyanya Part 1. Pecinta Abuya KH.
Abdurrahman Nawi. facebook.com
NU Online. (2023, 14 Juni). KH
Abdurrahman Nawi, Pejuang Aswaja dari Betawi. nu.or.id
Pecihitam.org. (2023, Mei). Kitab
Ihya Ulumuddin Hendak Dibakar Ulama. pecihitam.org
Sentralone.id. (2023, Mei).
Lecehkan Kitab Kuning, Muhammad Ke Dilaporkan ke Polda Jatim. sentralone.id
Wuliyaw, Z. (2015, 9 Mei).
Aplikasi Kaidah Ushul Fiqih. Zulfa4whliya WordPress.
https://zulfa4whliya.wordpress.com/2015/05/09/aplikasi-kaidah-ushul-fiqih/
(Diakses Juni 2023).